Selamat Datang Era 3G

Indosat 3GSetelah membaca salah satu tabloid selular yang menyebutkan bahwa Indonesia termasuk 10 BESAR DUNIA dalam hal jumlah pelanggan 3G gw jadi pengen nulis opini ini.

Sebenarnya kita gak perlu bangga dengan predikat itu… lho kenapa??? Sebab peringkat tersebut ‘hanya’ berdasarkan jumlah pelanggan, yang total saat ini sekitar 2,5 juta nomor dari tiga operator besar seperti Indosat, Telkomsel dan XL. Bukan dari trafik yang wira-wiri di jaringan 3G tersebut.

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana onlineTentu saja kita bisa… sebab emang penduduk kita banyak :) Makanya Indonesia selalu jadi incaran para produsen apalagi di era perdagangan yang semakin global .

Gak dipungkiri memang sekitar 11 tahun industri selular tumbuh di Indonesia dengan pertumbuhan jumlah pelanggan yang sangat fantastis, utamanya sekitar lima tahun terakhir. Saat ini pun, konon, teledensitas negara kita masih termasuk kecil jika dibandingkan dengan tetangga apalagi negara maju ???

Kadang gw gak habis pikir dengan keadaan Negara kita yang sangat royal membelanjakan devisanya sebagai modal/capital dalam ndustri telekomunikasi.
Padahal devisa kita banyak disumbang dari sektor tenaga kerja/jasa bukan industri.
Seperti para TKI dan TKW *angkat topi buat mereka* yang sebagian besar sebagai pekerja ‘kasar’, pekerja yang berkeringat.
Dengan kata lain kita mengumpulkan sen demi sen melalui tetesan keringat…

Ironisnya itu tadi kita sangat royal…
Gimana yah… jadi muter-muter nih😦

Pertama, Indonesia adalah negara kepulauan (lebih dari 13.000 pulau) dengan penduduk yang tersebar dan geografis yang unik dan sulit. Dengan lebih dari 30 Provinsi dan entah berapa RATUS Kabupaten dan Kota serta berapa RIBU Kecamatan yang tersebar dari Ujung Timur hingga Ujung Barat.

Kedua, kecenderungan [dan memang keniscayaan jika mau survive] pembangunan infrastruktur telekomunikasi saat ini adalah ke semua Kecamatan.

Bisa dibayangkan jika setiap Operator Selular, katakanlah 3 Operator GSM terbesar, masing-masing harus membangun ditempat yang sama. Maka akan terjadi pemborosan besar-besaran :((

Misalnya suatu Kecamatan terpencil di kaki gunung yang masyarakatnya masih hidup dibawah garis kemiskinan dan disana dibangun 3 BTS yang masing-masing senilai 3 Milyar (capex) dengan operasional yang sangat mahal karena belum tersedianya listrik misalnya. Apakah itu suatu kebutuhan, kemewahan atau bahkan mubazir dan keangkuhan.

Andaikata masyarakatnya maju dan membutuhkanpun, namun karena letaknya terpencil dan jumlahnya sedikit tetap, gw pikir, merupakan pemborosan. Sebab denga jumlah yang sedikit dan letak yang tersebar tadi maka masing-masing Operator akan berebut kue yang sedikit tadi.
Bahkan bisa jadi, ini yang ironis, daerah tadi hanya digunakan sebagai syarat [baca politis] telah menjangkau semua Kecamatan walau dari sisi occupancy dan trafik jauh dari memadai.

Disatu sisi memang masyarakat akan sangat diuntungkan dengan kemudahan tersebut beserta tarif dan layanan nilai tambah yang dijanjikan, namun disisi lain terjadi pemborosan seperti diatas.

Telekomunikasi adalah industri padat teknologi sekaligus padat modal.
Teknologinya sendiri akan terus berkembang dari semula yang analog menjadi digital (1G) yang bukan cuma bisa voice tapi juga SMS, berkembang menjadi EMS dan GPRS (2G) lanjut dengan EDGE (2,5G) sekarang sudah masuk WCDMA (3G) dan HSDPA (3,5G). Penamaan generasi itu sendiri berpatokan pada kecepatan data yang mampu dialirkan/dibawa oleh sistem. Dan akan terus berkembang menjadi 4, 5, 6 dan seterusnya (who knows?).

Tahapan perkembangan tersebut semakin cepat antar generasi, dengan ditemukannya motode-metode pengompresan sinyal digital (digital signal processing) yang semakin canggih dan efesien.

Seperti kita ketahui bersama bahwa pada saat kita mengambil keputusan untuk menggunakan suatu produk maka kita akan selalu tergantung pada vendor/pabrikan produk tersebut dalam hal operasional (pengoperasian, perawatan, perbaikan termasuk upgrade sistem) dan penggantian suku cadang (spare part/module).

Bisa dibayangkan jika jumlahnya dikalikan 3 dengan adanya 3 Operator besar, belum lagi operator CDMA baik selular maupun FWA yang mempunyai kepentingan dan strategi yang sama serta beberapa operator lokal/regional serta operator baru.

Seandainya… ini seandainya…
Setengah saja (50%) atau 30% dari dana-dana tersebut digunakan untuk sektor lain misalnya kesejahteraan rakyat, kesehatan atau pendidikan.
Coba bayangkan berapa banyak masyarakat yang akan merasakan secara langsung…

Bagaimana caranya…
Menurut gw sih… batasi pembangunan BTS/Node-B/RBS baru dengan menggunakan metode revenue sharing antar Operator yang bersamaan sistem dan co-location antar operator dengan sistem yang berbeda.
Juga dengan membatasi jumlah operator yang ada, setidaknya jangan setiap kali ada operator baru, jadi ingat jamannya booming Bank pasca Pakto  (Paket Oktober) dulu sebelum krismon😦

Lho dimana letak persaingannya…
Arahkan persaingan ke nilai tambah (Value Added Service) , isi (content), harga (tariff) serta pelayanan (services) yang kesemuanya akan menjadi parameter bagi masyarakat dalam memilih layanan telekomunikasinya.

Saat ini masyarakat sudah dewasa, sudah pandai dan mengerti akan kebutuhannya… berkat edukasi selama lebih dari 10 tahun🙂

Mana bisa…!
Oke.. untuk situasi saat ini memang masih mustahil sebab regulasinya belum mengarah kesana, wasitnya masih belum dipercaya (dianggap suka berat sebelah) serta utamanya itikad belum ada.

Kalau ada itikad…
Tinggal dituangkan menjadi kebijakan dan diterjemahkan menjadi petunjuk teknis/aturan main dan dilaksanakan oleh operator.

Ngomong sih gampang tapi…
Ya…itu dia… namanya juga opini jagi gw cuma bisa ngomong doang…
Daripada gw simpan mending di tulis siapa tahu bisa jadi bahan renungan Anda yang baca minimal jadi pelepasan buat gw😛

Terakhir… ini yang penting.
Gw minta ma’af sekiranya data, fakta atau pendapat gw ada yang salah atau ada pihak yang keberatan. Sekali lagi gw minta ma’af.
Semuanya karena keterbatasan gw semata. Salam🙂

Satu pemikiran pada “Selamat Datang Era 3G

  1. setuju. negara kita banyak mengkonsumsi. namun, tak lebih dari sekedar Market. tidak berusaha bijak menjadi produsen, tentu dengan modal dan kesungguhan yang pasti tidak mudah.

    Hemat saya semua saling terkait, penyelenggara telekomunikasi, regulator serta masyarakat pemakai jasa.
    12 tahun waktu yang cukup untuk meng-edukasi pelanggan dan sekarang saatnya pelanggan memilih secara cerdas dan kritis🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s