Krisis Energi Listrik vs Krisis Komunikasi

miss infoJudul yang rada gak nyambung?! Apa hubungannya coba krisis listrik dengan komunikasi. Anda tebak… krisis listrik sehingga sulit membangun menambah infrastruktur komunikasi. Mungkin benar, tapi tulisan ini bukan dalam konteks yang besar seperti itu.

Ini sebenarnya hal kecil yang menimpa rakyat kecil yang coba mewujudkan mimpi punya rumah kecil🙂 Begini… khan minggu ini gw ambil cuti khusus buat ngurusin rumah (serah terima dari developer) sekalian pindah. Rencananya. Biar cepat pensiun dari kontraktor (orang yang suka ngontrak rumah) dan mulai nata-nata rumah orang sendiri.

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana onlineWalau dalam pembelian sudah termasuk air dan listrik, ternyata kami tetap harus melakukan permohonan ke pihak developer baru dipasangin listrik + air. Wah… kenapa gak dibilangin jauh-jauh hari, itu aja untung ada yang bilang kalo kita gak tanya-tanya berarti dianggap kita belum mau pasang🙂 Ok sampai disitu akhirnya hari Rabu gw bilang ke Developer bahwa kami akan segera pindah dan minta dipasangin listrik + air.

Alhamdulillah hari Jum’at meteran air sudah terpasang dan mengalir tentunya🙂
Tapi listrik? Blom ada tanda-tanda😦 Akhirnya setelah beberapa kali bolak-balik ke kantor pemasaran, tadi sore diperoleh jalan keluar yakni untuk sementara akan dialirkan listrik oleh pihak developer dengan sistem borongan. Karena bukan listrik resmi dari PLN yang menggunakan KWh meter. Itupun setelah kami menghadap langsung ke Manager-nya.

Konon di Makassar sedang telah terjadi krisis energi sehingga permintaan untuk pemasangan baru sangat sulit, tapi jauh lebih sulit lagi bagi kami pihak user yang orang awam jika hal ini tidak disampaikan dengan jelas dan transparant. Yang setiap hari hanya diberi harapan dan kucing-kucingan antar iya dan tidak.

Jadi inget cerita Pak Anjar dalam blognya mengenai Nenek yang melakukan negosiasi/siasat kepada preman di BSD. Kami juga menempuh cara yang ampir mirip, namun bukan siasat melainkan keadaan sebenarnya.
Kami sampaikan bahwa; “…cuti saya cuma minggu ini, sampai tanggal 7 Juli, sehingga jika masalah tersebut belum tuntas maka saya akan kembali ke Kotamobagu dan mohon ma’af jika serah terima rumah terpaksa tidak dapat kami penuhi. Kapan akan terealisasi tergantung kondisi nanti bisa cepat atau sebulan bahkan lebih jika saya ada kesempatan..”

Tentunya mereka khawatir jika tidak segera dilakukan serah terima maka dalam waktu sekian lama rumah tersebut masih menjadi tanggung jawab mereka dengan segala resiko kotor, bocor atau bahkan rusak😦 Sehingga mereka mengupayakan keinginan.

Di era informasi dan keterbukaan saat ini sudah searusnya pihak-pihak yang notabene menyediakan jasa seperti PLN juga developer lebih bijak dan santun menyampaikan kondisi sebenarnya ke masyarakat. Jika ketersediaan daya minim jangan sekali-kali bilang meteran tidak ada. Jika memang pengurusan pasang baru lama, jangan sekali-sekali memberi janji yang sukar ditepati.

Percayalah bahwa keterbukaan jauh lebih baik, agar konsumen pemakai jasa lebih bijak dan realistis menyikapi. Dan semua menjadi baik dan terarah. Percayalah krisis komunikasi lebih fatal dibandingkan krisis energi listrik.

Satu pemikiran pada “Krisis Energi Listrik vs Krisis Komunikasi

  1. halim

    Listrik, salah satu energi terpenting dalam hidup manusia.
    tanpa listrik rasanya kehidupan tenggelam bersama kapal titanic,bayangin aja,….
    begitu juga dengan komunikasi, tanpa dipasok listrik, ga bakal jalan deh,…

    Yup setuju banget.. BTW makasih udah mampir, jangan bosan-bosan ya🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s