Banjir, apakah bumi semakin tua…?!

Sejak akhir 2013 sampai awal 2014 ini beberapa kali di beberapa tempat yang berbeda saya melihat banjir, tidak parah namun sempat melihat dan mengalaminya. Di banyak tempat tadi..

Jika harus disebutkan urut-urutannya mulai dari Makassar, Jakarta, Bekasi hingga ke Pekalongan yang sempat melumpuhkan jalur pantura yang notabene merupakan salah satu urat nadi perekonomian pulau Jawa dan Indonesia umumnya. Konon saat ini banjir telah bergeser lebih ke arah Timur tepatnya Semarang dan Kudus.

Air punya prinsip yang sangat sederhana namun selalu dipatuhi, seperti disebut oleh Archimedes (benar kan ya) tentang sifat dari air yang mestinya hampir semua orang tahu. Sebab sejak pelajaran IPA di SD dulu sudah diajarkan bagaimana air selalu dan akan terus mengalir ke tempat yang lebih rendah dan tidak akan berhenti sebelum mencapai titik keseimbangannya (rata permukaan). Sunatullah..

Karenanya air juga biasa digunakan sebagai tools untuk mengukur, tepatnya menyamakan, tinggi permukaan tanah, bidang, benda atau apapun bahkan oleh pekerja bangunan di desa-desa sekalipun.

Tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak memahami sifat air..

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana onlineBanjir, satu kata yang sangat populer, setidaknya tiap awal tahun di Indonesia selalu sipenuhi dengan berita, kabar, pemandangan serta pengalaman atau kejadian yang kadang memilukan karena merugikan kemanusiaan.

Bagi orang yang berpikir ekstrim, banjir adalah bukti nyata gagalnya pengelolaan suatu wilayah, lebih besar lagi bangsa. Jadi banjir bisa dianggap sebagai kegagalan pengelola negara. Terlepas dari urusan politik, yang kadang membuat kita kurang obyektif.

Dua puluhan tahun lalu tiap banjir datang selalu diangkat masalah penebangan liar, reboisasi dan kawan-kawan termasuk sampah. Belakangan isu gundulnya hutan, perlunya reboisasi dkk tadi kurang mengemuka. Pertanyaannya kenapa? Apa karena memang sudah tidak ada hutan? Apa penebangan liar benar2 sudah terkontrol atau karena itu isu lama uang sudah tidak seksi lagi.

Kebetulan dari kecil saya tinggal di salah satu perumahan yang di bangun oleh pemerintah, sekitar tahun 1978, yang bisa jadi contoh nyata baiknya pengelolaan lingkungan dengan mempertimbangkan amdal. Bukan hanya selogan namun nyata di terapkan.

Perum Perumnas waktu itu membangun kawasan perumahan satu-satunya di Jakarta, sebut saja Perumnas Klender karena dua lainnya di Tangerang dan Bekasi, dengan amdal sangat baik sehingga sampai hari ini tidak pernah terdengar kebanjiran. Semoga tetap demikian karena banjir merupakan akibat dan satu kesatuan tidak bisa diupayakan pencegahannya secara parsial antar wilayah.

Kembali ke sistem amdal yang diterapkan di Perumnas Klender, khususnya kawasan perumahan sederhana. Untuk RSS saya kurang paham, karena kebetulan saya tinggal bukan di kawasan itu. Amdal yang diterapkan antara lain:
1. Pembuatan sumur resapan di setiap unit rumah, dengan daya tampung sesuai dengan luasan bangunan yang dibuat. Jadi semacam kompensasi atas ditutupnya pori tanah oleh bangunan, karena semua pembuangan air dari kamar mandi juga talang air akan masuk ke sumur resapan sehingga dapat masikmal masuk ke pori tanah dan selebihnya, jika sudah meluap baru disalurkan ke drainase yang ada di kanan-kiri jalan maupun gang-gang.
2. Drainase (sebut saja got) yang disediakan mempunyai sedikitnya 3 ukuran yang berbeda antara got dari rumah tangga, dari jalan hingga ke got besar campuran tempat bertemunya beberapa got sevelumnya. Bayangkan saja ranting pohoh kecil, ranting pohon sedang hingga ranting pohon besar. Sehingga diminimalisir adanya bottle neck yang menjadi sebab utama banjir.
3. Setiap simpul dari got-got tadi selalu memiliki semacam ruang persegi yang lebih lebar dan lebih dalam pastinya. Biasa disebut sebagai bak kontrol. Gunanya agar sampah yang hanyut atau terbawa bisa mengendap dan tertampung disana, sehingga dalam perawatannya bagian simpul2 itu yang menjadi prioritas untuk dibersihkan dari sampah atau pendangkalan. Jumlah sampah yang hanyut sampai bisa di minimalisir.
4. Sungai/kali buatan yang besarnya bervariasi dari mulai sekitar 2 meter di hulu hingga belasan meter di hilir, katakan demikian, karena sebenarnya yang dikatakan hilir adalah pertemuan antara sungai buatan dengan sungai alami terdekat yang dari wilayah perumahan ini. Sungai ini bisa diibaratkan sebagai batang besar dari sebuah pohon tempat bertemunya batang2 kecil yang ada.

Hikmah yang dapat diambil dari sitiasi, banjir, saat ini adalah perlu cara pandang menyeluruh untuk mencegahnya, antara lain:
1. Tata ruang kota yang dibuat lebih ‘membumi’ dengan amdal presisi.
2. Perangkat perundangan, peraturan, yang tegas dan jelas agar bisa dijalankan oleh aparat.
3. Petunjuk teknis dan advokasi bagaimana cara membuatnya secara mudah dan efektif.
4. Disiplin, ini yang paling krusial, penyelenggara. Jangan beri IMB tanpa amdal untuk industri, komersial termasuk untuk rumah tinggal pribadi apalagi yang diusahakan oleh pengembang. Titik.

Contoh banjir saat ini tidak bisa di urai oleh kekuatan menengah apalagi kecil. Yang ada adalah mau menang-menangan antar pemerintah daerah. Itu wajar dan benar, karena semua ingin membela, menertibkan serta menyejahterakan daerahnya. Pusat harus ambil alih, pegang kendali dan istiqomah.

Sumur resapan harus jadi prasarat bagi pengurusan izin baru dan bio pori harus menjadi gerakan Nasional untuk wilayah-wilayah yang sudah terbentuk. Kita bangsa yang suka gotong royong. Jangan biarkan sikap gotong royong kita punah dan tinggal cerita hanya karena semua dijadikan proyek.

Saat ini semua dijadikan proyek, hingga masyarakat enggan merapikan, membersihkan apalagi memperbaiki saluran2 air sekalipun itu berada di depan rumah sendiri. Mari kita kembalikan seperti dulu.

Dengan gotong royong berapa besar penghematan yang bisa didapat. Dengan gotong royong berapa hikmah silaturahmi yang diperoleh. Dengan gotong royong semua jadi guyub yang secara tidak langsung bisa jadi preventif bagi ketertiban dan keamanan lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s