Refleksi 70 Tahun Kemerdekaan Indonesia

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, merdeka memiliki bebarapa makna;
1. bebas (dr perhambaan, penjajahan, dsb); berdiri sendiri.
2. tidak terkena atau lepas dr tuntutan.
3. tidak terikat, tidak bergantung kpd orang atau pihak tertentu.

===÷÷÷===

Saat melihat banyaknya bangunan peninggalan sejarah di negeri ini — kesadaran ini memuncak sekitar dua tahun lalu saat di Semarang, Jawa Tengah — tiba-tiba saja terlintas dalam benak saya sebuah pemikiran tentang makna, fungsi serta efek psikologis maupun sosiologis akan keberadaan bangunan-bangunan tua peninggalan sejarah. Yang lebih tepatnya — kebanyakan atau bahkan seluruhnya — merupakan bangunan peninggalan penjajah kolonial Belanda.

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana onlineYang saya maksud disini diluar bangunan bersejarah keagamaan seperti candi, pura, gereja maupun masjid yang mungkin masih ada dan sebagian masih dimanfaatkan baik seperti peruntukannya pada jaman itu maupun sebagai sebuah situs peninggalan yang bernilai sejarah.

Kembali kepada banguanan bersejarah peninggalan jaman penjajahan maupun pra kemerdekaan.

Hingga saat masih terlihat bangunan-bangunan peninggalan para penjajah — musuh kita, karena mereka melakukan penjajahan, penindasan, perampasan ekonomi serta penistaan nilai kemanusiaan dan akal budi bangsa ini — yang berdiri megah bahkan di pusat-pusat kota.

Dalam pembukaan UUD 1945 dikatakan bahwa “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Masa-masa penjajahan adalah catatan kelam bangsa ini. Dimana kita mengalami masa sulit, di khianati dan di tindas oleh bangsa yang menjajah negeri ini sehingga mungkin tidak terlalu berlebihan kalau saya katakan bahwa kita dan mungkin seluruh penduduk negeri ini benci penjajahan. Sekali lagi benci penjajahan. Karenanya ribuan bahkan jutaan anak bangsa serta pahlawan — dari generasi ke generasi — telah gugur sebagai syuhada dalam memperjuangan kemerdekaan negeri ini.

Logika sederhana saya mengatakan bahwa ketika kita benci akan sesuatu maka sedapat mungkin akan kita jauhi, hindari bahkan hilangkan (atau musnahkan) segala apa yang kita benci termasuk hal-hal yang berpotensi akan membawa kita kepadanya atau membuat kita teringat akan sesuatu yang kita benci tadi. Hapus jejak.

Jika hal yang kita benci ini adalah kegagalan atau masa-masa gelap dan pahit saat dijajah, maka setelah kita merdeka — logikanya — kita akan membenci segala sesuatu tentang penjajahan itu termasuk peninggalan-peninggalan yang akan membawa ingatan kita kepada mimpi buruk yang pernah dialami oleh orang-orang tua kita. Mimpi buruk akan penjajahan adalah sesuatu yang sangat menyakitkan karena keberadaan kita sebagai manusia sangat dinistakan secara sah dan sistemik hingga bekasnya belum hilang hingga saat ini meski sudah berganti empat generasi.

Dalam kesempatan yang baik ini, sembari mensyukuri dan merenungi makna kemerdekaan yang telah kita raih 70th lalu saya teringat akan keberadaan bangunan-bangunan bersejarah, utamanya gedung, yang masih ada dan digunakan saat ini. Iya digunakan, bukan saja sebagai museum atau situs peninggalan sejarah bahkan masih digunakan sebagai Istana Negara (Presiden), Kantor Gubernur, Kantor Walikota/Bupati dan kantor-kantor pemerintahan lain — mungkin — kalau masih ada.

Pertanyaannya adalah;

  • Apakah kita tidak/belum mampu membuat gedung atau kantor bahkan istana sendiri, hasil rancangan ahli bangunan serta kemampuan tangan para pekerja bangsa ini, Indonesia.
  • Atau kita tidak memiliki cukup anggaran untuk mewujudkan atau membangun gedung atau kantor para petinggi negeri ini, bahkan setelah 70 tahun kita merdeka.
  • Dengan menggunakan bangunan bekas penjajah sebagai kantor pemerintahan, tidakkah mereka yang duduk disana akan ‘berubah’ atau terpengaruh dengan ‘aura’ penjajah dengan cara berfikir mengambil manfaat sebanyak-banyaknya dari negeri ini.
  • Bukankah dengan menggunakan bangunan hasil karya bangsa sendiri, meski sangat sederhana dibanding bangunan peninggalan penjajah itu tadi, akan menimbulkan rasa bangga dan percaya diri sehingga timbul kemandirian dan rasa menghargai keberadaan — dan hasil karya — bangsa Indonesia.

Mungkin tulisan ini hanya opini dan dengan pengetahuan yang sangat dangkal tentang banyak hal. Namun satu yang pasti saya, bahkan mungkin banyak pembaca akan sepakat, akan sangat bangga jika bangsa ini melepaskan semua bayang-bayang suram masa lalu agar dapat tegak berdiri dan melangkah maju.

Betul, saya setuju, bahwa sepahit apapun sejarah adalah kenyataan yang darinya kita bisa belajar untuk lebih baik dan terhindar dari kegagalan/kesalahan yang sama.

Oke kalau begitu biarkan beberapa bangunan bersejarah tetap ada, sebagai warisan sejarah atau budaya sebagai museum, yang merupakan saksi perjalanan bangsa. Tapi perjalanan bangsa yang seperti apa dulu… kalau gemilang silahkan dipertahankan.. kalau sebaliknya? Kenapa kita membiarkan bangsa ini hingga anak cucu kelak bernostagia dan beromantika akan kegagalan dan masa-masa pahit yang menyertainya.
Jangan lupa klik banner dibawah ini yah..
bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Posted from WordPress for Android feat Sinyal Kuat Indosat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s