Kompetisi Selular (Sebuah Nostalgia)

Kompas Online: Dibalik Perseteruan Indosat Telkomsel

Baca berita diatas jadi ingat pengalaman 12 atau 13 tahun lalu – sudah lupa tepatnya tahun berapa 2003 atau 2004 – yang saya alami sendiri waktu masih bertugas di Palu, Sulawesi Tengah.

Karena ragu tahunnya gak usah disebut kejadiannya waktu itu pembangunan BTS masih sangat terbatas, sedikit sekali paling2 dalam setahun cuma dapat tambahan 2 atau 3 BTS baru untuk wilayah kerja saya, Provinsi Sulawesi Tengah.

Karena terbatasnya jatah, baca investasi pembangunan BTS baru, menuntut saya untuk lebih smart memilih mana prioritas dan mana belum jadi prioritas. Kita harus pertimbangkan banyak aspek sebelum melakukan ekspansi jaringan.

Untungnya kala itu kita semua di daerah mempunyai otoritas cukup besar, kebetulan saya masih di teknik (Engineer) dan merangkap bantu2 komersial untuk melayani pelanggan maupun mitra kerja. Judulnya dulu Sub ROP (Regional Operation Point), sebagai Kepala Sub ROP Palu Sulawesi Tengah.

Lalu apa hubungannya dengan berita diatas? Hehe sabar ya.. begini ceritanya.

Waktu itu di akhir tahun kami dapat tambahan alokasi 2 BTS baru yang akan dikerjakan dan aktif tahun depan. Dengan berbagai pertimbangan ‘sikon’ saat itu maka saya putuskan 1 BTS untuk memperkuat dalam kota dan 1 BTS lagi akan ditempatkan di Luwuk, Kab. Luwuk Banggai dengan pertimbangan:
– Belum ada operator selular,
– Potensi daerah sangat bagus,
– Aman, justru Poso terakhir kita bangun BTS setelah Luwuk, Tolitoli, Banggai Kepulauan dan Biromaru. Karena disana sudah ada Telkomsel dan XL serta wilayah konflik. Entar cuma dijadiin alat komunikasi/koordinasi para pihak 😕

Karena kedekatan saya dengan teman-teman di Telkom Palu, sesama engineer, termasuk Kepala Reps Office Telkom waktu itu sehingga diperoleh info bahwa link transmisi antara Palu-Luwuk masih banyak tersedia (idle) dan bisa di sewa. Karenanya saat saya ditanya Jakarta (Kantor Psat) akan menggunakan satelit atau terrestrial (Micro Wave) maka saya putuskan akan sewa link Telkom saja, lebih praktis dan mudah untuk ekspansi.

Singkatnya pembangunan berjalan sesuai rencana dan sekitar bulan April tower Luwuk, di daerah Tanjung sudah RFI (Ready For Instalation) yang berarti listrik sudah masuk dan lampu tower sudah menyala.

Saat itu saya beserta teman-teman dari Siemens -lupa berapa orang, mungkin 3 orang, saat ada pekerjaan disana menyempatkan diri mampir ke Kandatel Luwuk Banggai untuk melakukan pra survey lokasi, untuk mengetahui letak fisik tower, radio dsb terkait kebutuhan interkoneksi perangkat. Ini kami lakukan spontan – belum/tidak terjadwal sebelumnya – demi percepatan. Dengan semangat 45 deh pokoknya 😉

bebas

Reaksi pihak Telkom saat itu sangat welcome dan mendukung upaya kami (Satelindo, kala itu) untuk segera menghadirkan layanan selular disana. Hampir semua karyawan Telkom senang dan membantu kelancaran survey. Mereka bilang “..malu kalau ke Jakarta ditanya No HP berapa? tapi gak punya..”

Kami pun antusias bahwa layanan bisa di gelar secepatnya.

Saat itu orang mulai membeli HP dan kartu perdana Mentari, bahkan ada beberapa pedagang yang menangkap peluang dengan cepat menyediakan SP Mentari. Juga HP mungkin. Keberadaan sinyal di Luwuk Banggai sangat di nanti-nantikan apalagi dengan adanya tower setinggi 70 meter yang berdiri dengan gagahnya dengan lampu yang berkedap-kedip di waktu malam makin memberikan janji masyarakan disana.

Nyatanya tidak semua bisa berjalan dengan mulus sesuai harapan banyak orang, hingga bulan Juni, Juli bahkan Agustus kepastian izin sewa belum bisa kami dapatkan sementara keputusan sudah diambil. Seandainya kita gunakan satelit, yang notabene milik Satelindo sendiri, kemungkinan sinyal GSM sudah mengudara di Luwuk.

Kalau gak salah sekitar bulan November layanan Telkomsel masuk di Kota Luwuk dengan menumpang (sewa?) di tower milik Telkom dan tidak berapa lama kemudian dikabarkan dari Jakarta bahwa izin sewa dari Telkom sudah keluar. Tapi karena baru izin maka masih perlu tahapan-tahapan lagi dan mulai dikerjakan sekitar Desember-Januari.

Awal Februari kita sudah siap tapi saya bilang ke Siemens bisa gak kita On Service nanti aja tanggal 14 Februari, dengan alasan biar gampang diingat aja..

Alhamdulillah dengan segala persiapan dan kerja keras BTS bisa On Service tepat di tanggal 14 Februari dan sekali lagi Alhamdulillah langsung diisi trafik cukup banyak, artinya langsung digunakan masyarakat yang selama ini sudah menanti. Ihiik jadi terharu..

Kenapa masyarakat tetap menanti kehadiran Indosat (d/h Satelindo) di Luwuk? Karena kontur Kota Luwuk yang seperti mangkuk/cawan (teluk dikelilingi bukit) dan posisi tower Indosat di Tanjung seperti ada di dasar mangkuk sehingga bisa meng-cover sebagian besar mungkin 80% penduduk yang ada.

Perlu saya jelaskan, dalam menentukan lokasi tower Indosat memprioritaskan daya jangkau seluas-luasnya (point to multi point)di suatu kota seperti broadcaster (TVRI/RRI) berbeda dengan Telkom (ingat Telkomsel co-location disana) yang menentukan titik tower berdasarkan lossing area terjauh (point to point oriented) sehingga belum tentu strategis untuk broadcast.

Itu jawabannya kenapa sinyal Indosat tetap ditunggu masyarakat, bahan beredar banyak cerita yang sudah ganti kartu Mentari sampai 2 kali karena expire. HP dan kartu disiapkan tapi sinyal gak kunjung ada. Jadi kartu Mentari mereka banyak yang mati. 😡

Pun demikian perjuangan tidak selesai begitu saja, karena sinyal kita acap kali terganggu segingga kualitas layanan Indosat di Luwuk saat itu benar-benar buruk. Timbul tenggelam hari ini baik besok rusak begitu terus sampai berminggu-minggu. Waktu itu telinga kiri saya sempat rusak karena seringnya bolak-balik naik pesawat kecil untuk masalah ini.

Kita lakukan BER test baik di Luwuk maupun di Palu selalu dengan hasil baik. Namun bagai ada ‘hantu‘ tiba-tiba layanan Indosat terganggu sementara telepon kabel Telkom maupun selular Telkomsel tetap aman. Hal ini akan kembali normal setelah kita telpon pihak penyedia jasa. Selalu berulang bagaikan ada ‘hantu’ yang bertugas mengganggu.

Berkali-kali pula kita lakukan pindah slot di DDF mereka untuk mendapatkan kanal yang stabil. Alhamdulillah seiring berjalannya waktu hal ini semakin jarang terjadi. Mungkin ‘hantu’ nya malu atau sudah di mutasi.

Persaingan masih berlanjut untuk mendapatkan tempat di hati masyarakan Luwuk Banggai. Mungkin sekitar tahun 2005 saat kita dapat alokasi agak besar – dengan berbagai pertimbangan yang sangat berani dan nekad dibantu teman-teman Makassar utamanya Tatu Anshar putra daerah Luwuk – saya putuskan untuk ekspansi ke Toili.

Jarak antara Luwuk dengan Kecamatan Toili (Berdiri Tahun 1997) sekitar 100 Km lebih menempuh hutan dan bukit-bukit yang masih minim infrastruktur.

Setelah dilakukan survey gabungan antara saya, team planning Indosat, Siemens dan INTI maka diperoleh hasil optimum untuk sampai di Toili dibutuhkan 3 tower antara (Nodal) jadi total harus dibangun 4 tower untuk bisa menggelar layanan GSM di Kecamatan Toili.

Angin baik, perkerjaan pun segera dilakukan dan BTS Toili bisa On Service sebelum masa kampanye Pemilu langsung yang pertama, mungkin 2015, sebab yang saya ingat waktu itu para Artis, Jurkam maupun Pejabat Partai Golkar menyatakan keheranannya dan rasa salut kepada Indosat yang bisa ada di Tengah Sawah di daerah ratusan kilometer dari Kabupaten. Sementara kompetitor yang saat itu gencar dengan iklan hadir di ‘semua’ Kecamatan malah tidak ada sama sekali.

Pararel dengan Toili kami juga melakukan survey dan pembangunan BTS di Banggai Kepulauan. Kalau tidak salah BTS ini aktif bersamaan dengan Toili. Disini kami menggunakan satelit sehingga gampir tidak ada kendala sama sekali.

Sedikit cerita dari Banggai Kepulauan adalah waktu pertama survey disana, baik dari pihak masyarakat, Pemda maupun instansi yang berhubungan dengan kita tidak/belum ada info kapan Telkomsel akan masuk di Pulau kecil ini.

Tapi saya sempat kaget karena waktu kita melakukan On Service, mengaktifkan BTS, ternyata tepat di samping tower Indosat bagai di sulap telah berdiri tower Telkomsel, dengan posisi tanah sedikit lebih tinggi, dalam kondisi siap aktif juga. Luar biasa.

Dan orang Indonesia sangat praktis cara berfikirnya, dari beberapa orang yang saya temui di kapal -penyeberangan antar pulau- mereka satu suara menyatakan bahwa tower yang lebih tinggi itu lebih baik. Sebuah asumsi yang tidak bisa disalahkan, sangat wajar, dan hal ini dimanfaatkan dengan sangat cerdas oleh Telkomsel 👍

Kembali ke Toili..

Tidak sampai dua bulan di Toili segera ada Combat dan beberapa bukan kemudian hadir BTS permanen dari Telkomsel disana. Namun Indosat tidak mau terlena saat Telkomsel menghadirkan Combat di Toili saya sudah merelese permohonan ke Poject untuk di pasang BTS di Tohiti Sari, Toili Barat hasil pemekaran wilayah Toili.

Untuk sampai di Toili Barat dibutuhkan satu tower antara, nodal, sehingga benar2 tidak sedikit biaya yang dikeluarkan untuk ‘pertempuran’ di Luwuk Banggai.

Untuk menjaga momentum, agar tetap unggul, selain di Tohiti Sari maka Indosat juga mengaktifkan 2 tower nodal menjadi BTS yakni di Mahaas dan Batui. Maka Indosat menang telak saat itu.

Kenapa menang telak? Mungkin Tohiti Sari dan Mahaas bisa segera diikuti namun Batui agak susah setidaknya lama, karena di Kecamatan pemekaran ini Indosat punya nodal yang memang dari awal sudah kita kondisikan untuk bisa di upgrade menjadi BTS .

Alhamdulillah sampai sekarang Luwuk Banggai masih menjadi lumbung emas Indosat meski dengan segala keterbatasannya.

Jangan lupa klik banner dibawah ini yah.. *ting😉
bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana onlineAll in one payments point BebasBayar fit for You!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s